Scroll to top

Orangtua Bijaklah! Jangan Berikan Anak dibawah Umur Kendaraan Bermotor
User

Orangtua Bijaklah! Jangan Berikan Anak dibawah Umur Kendaraan Bermotor

Pengendara motor di bawah umur sudah menjadi fenomena di masyarakat. Mulai di kota-kota besar hingga di pedesaan kita kerap disuguhkan dengan maraknya pengguna kendaraan terutama motor di bawah umur. Ironinya, para pengendara di bawah umur tidak sadar sebenarnya bahaya tengah mengintip. Di komplek perumahan misalnya, tidak jarang anak-anak dibawah umur ini berboncengan. Tidak berdua, Malah hingga berboncengan tiga. Salah satu kasus misalnya yang terjadi beberapa hari lalu, terjadi lakalantas di kelurahan Namaelo antara pengendara sepeda motor yang mengenakan seragam SMP berboncengan dan tanpa mengenakan helm. Motor yang di kendarai anak SMP itu menabrak seorang ibu yang hendak ke pasar.

Selain kasus di atas, seringkali juga kedapatan anak-anak yang masih di bawah umur ugal-ugalan mengendarai kendaraan sepeda motor di sepanjang Jalan Protokol masohi hingga larut malam. kondisi seperti ini tentu sangat berbahaya pagi pengendara lain dan sudah tentu membahayakan si pengendara yang masih di bawah umur.

Baca Lainnya :

Terkait pengendara kendaraan bermotor di bawah umur, Undang-Undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, mengisyaratkan jika pengendara bisa mendapatkan SIM jika telah memenuhi syarat usia minimal 17 tahun.

Apakah ada yang salah dengan kondisi tersebut? Aturan menyebutkan jika minimal usia 17 tahun. Kenapa usia 17 tahun ? Menurut psikolog Efnie Indrianie di Vivalife, ada beberapa hal mengapa anak baru boleh mengemudi ketika mencapai usia 17 tahun. Salah satunya otak kanan manusia baru bisa berfungsi baik pada umur tersebut.

Inti utama fungsi otak kanan sebagai pusat kontrol diri. Di usia tersebut, kepekaan dan kepedulian anak akan sesuatu hal semakin besar. Efnie menjelaskan, otak kanan juga berfungsi sebagai analisa dan prediksi. Pengendara mobil atau motor yang sudah berusia 17 tahun diharapkan mampu memprediksi jarak antara satu mobil dengan yang lainnya.

Selain itu, di usia tersebut, seseorang juga mampu memprediksi apa yang akan terjadi ketika mengemudi kendaraan dalam kecepatan tinggi. Emosional dapat dikontrol baik.

Data dari World Health Organization, sepeda motor menjadi penyumbang tertinggi angka kecelakaan: 56 persen atau 5.036 kejadian dari total 9.002 kecelakaan. Kecelakaan jalan raya pada anak usia 5-14 tahun menjadi penyebab kedua kematian setelah infeksi pernafasan. pada periode 28 April sampai 9 Mei 2022, dimana berdasarkan data dari Korlantas Polri tercatat terjadi 3.457 Kasus.

Maka, kewajiban orang tualah untuk memperhatikan anak yang belum cukup umur agar tidak mengendarai motor atau mobil. Lantaran, usia muda identik dengan sikap emosional yang masih tinggi. Dengan sikap emosional tersebut maka jangan heran jika ugal-ugalan di jalan besar kemungkinan terjadi. Jangan sampai, orangtua memberikan motor untuk kebanggaan karena mampu membelikan kendaraan untuk anaknya. Padahal dibalik ITU, bahaya mengancam. Waspadalah...!

Oleh:  Ahmad R. Sangadji, S.E (PNS Pada Dinas Perhubungan Maluku Tengah)


Write a Facebook Comment

Comments ( 1 )

Leave a Comments